Sesesorang dengan raut wajah hitam
dan keriput, dan tubuhnya kurus, tampak tulang-tulang yang terlihat di sekujur
tubuhnya. Dengan pakaian yang berlobang-lobang nampak pakaian itu adalah
satu-satunya pakaian yang dia miliki. Tubuhnyapun bau karna dia jarang sekali
mandi. Orang-orang biasa memanggilnya dengan nenek tua.
Hari itu dia bangun pagi-pagi
sekali, dan mulai mengisi aktivitas seperti biasanya. Yakni mencari kayu bakar
di hutan. Kayu bakar itu kemudian dikumpulkannya lalu di jualnya kepada
orang-orang yang membutuhkan kayu itu. Biasanya dia menjual kayu bakar itu ke
desa seberang. Dia membutuhkan waktu satu setengah jam untuk menuju desa itu.
Demi memenuhi kebutuhan sehari-harinya wanita sebatang kara itupun rela
melakukan pekerjaan itu. Tiada kata lelah dalam benaknya. Karna itu juga sudah
menjadi kerjaanya sejak sepuluh tahun yang lalu.
Kini Matahari tepat berada di atas
kepalanya, dan dia memangdang langit dengan bola matanya. Olehnya terlihat
matahari di sela-sela rimbun dedaunan pohon. Nenek tua itupun merasa lelah
sekali setelah mengumpulkan kayu-kayu kering yang sudah lumayan banyak. Lalu
dia duduk di bawah pohon besar. Orang daerah situ biasa menyapa pohon itu
dengan sebutan *Pohon angker*. Konon
katanya pohon itu sangat angker. Seringkali orang-orang yang melewati pohon itu
mendengar suara aneh yang gemuruh , seolah-olah ada kehidupan di sekeliling
pohon itu. Karna banyak suara yang keluar dari bilik pohon itu. Setiap orang
yang mlewati pohon itu pasti bulu-bulu kuduk nya bangun terasa sangat merinding,
dan kalau tiba-tiba sa’at merinding itu jatuh setangkai pohon kayu yang rapuk
dengan suara yang mengejutkan orang yang merinding itupun terkejut dan langsung
berlari tanpa tau arah kemana,, yang penting berlari karena takut dan terkejut
tiada tara.
Namun berbeda dengan nenek tua tadi, dia dengan tenangnya
beristirahat melepaskan rasa lelah dibawah pohon itu, Karna walaupun terkenal
angkernya, pohon itu sangat rindang dengan dedaunan yang membuat sejuk suasana
di sekeliling pohon itu. Nenek tua itu sangat lelah sekali dan tidak terasa dia
tertidur di bawah kerindangan pohon itu. Hingga tiba-tiba hujan turun dan
membangunkan dia dari tidurnya. Sa’at tersadar air mulai membasahi wajahnya
yang keriput itu dengan bergegas dia bangun lalu menutup batang kayu-kayu kecil
yang telah dikumpulkannya tadi. Agar tidak basah terkena air hujan yang jatuh
di sela-sela dedaunan kecil pohon angker itu.
Setelah berberapa lama kemudian hujanpun mulai reda dan terlihat
matahari kembali menampakkan keperkasaannya. Nenek tua itupun bangun dari
tempat bernaungnya seraya mengambil kayu-kayu yang dikumpulkannya tadi dan
berniat akan melangkahkan kakinya pulang kerumah.
Dengan penuh semangat dia berjalan menelusuri hutan dan terlihat
air terjun yang jernih di sebuah tempat yang biasa dilaluinya untuk pulang
kerumah. Seketika melihat air jernih itu dia pun merasa haus. Dan seketika itu
juga dia turun untuk minum air terjun yang jernih tadi. Hal seperti Itu memang
sudah biasa dia lakukan setiap kali pulang dari mencari kayu bakar.
Kicau burung di sepanjang jalannya menuju rumahnya membuat dia
tidak merasa kesepian dan semakin membuatnya bersemangat untuk melangkahkan
kakinya. Namun sesampai di depan rumahnya semangatnyapun hilang. Dan sekarang
dia duduk di sebuah batang pohon yang tumbang di depan rumahnya. Terlihat jelas
di depan matanya sebuah gubuk tua yang condong kekiri dan hampir ambruk.
Suasana sunyi senyap menyelimuti cuaca pada sa’at itu percikan
bekas air hujan yang tersisa di atas dedaunan pohon jatuh di Sela-sela dahan
ranting membuat suasana sa’at itu semakin senyap. Ditambah dengan sejuknya pohon-pohon
yang rindang membawa sii nenek itu kedalam alam hayalannya. Tidak terasa dia
mulai menjatuhkan air mata dan air matanya itu mengalir dari sisi-sisi hingunya
lalu air mata itu jatuh ke mulutnya tangan kanannya pun langsung menyapu air
matanya yang jatuh itu. Ada apa gerangan yang terjadi? Ternyata nenek itu
teringat akan suami dan anaknya sepuluh tahun silam.
Ketika itu suasana haru bahagia menyelimuti sebuah keluarga
sederhana yang berda di pinggiran kota. Karna anak pertama telah lahir di
keluarga itu, terlihat seorang bayi yang sedang di gendong ayahnya, bayi
laki-laki yang sangat tampan. Umurnya baru sekitar dua Minggu. Setiap kali
ibunya memandang bayi itu tidak terasa air mengalir di pipi sang bunda. Karna
merasa sangat bahagia memiliki anak laki-laki yang sehat dan tampan serta tidak
rewel. Namun kebahagiaan keluarga ini tidak berlangsung lama.
Sa’at itu anaknya sudah berusia dua tahun. Suasana begitu sepi
terasa, menunjukkan malam itu semakin larut. Keluarga itupun sudah tertidur
pulas sekali. Tanpa sadar sang ibu lupa memtikan kompor sehabis memasak air
untuk membuatkan susu anaknya sekitar dua jam yang lalu. Tidak tau pasti bagaimana
kejadian itu berlangsung. Tiba-tiba kompor yang menyala itu meledak dan
membakar isi dapur. Namun kelurga itu masih tertidur pulas sedangkan tetangga
di sekeliling rumahnya berhamburan keluar rumah menyelamatkan diri.
Sang jago merahpun dengan cepat merayap-rayap memakan rumah itu,
Pemadam kebakaran terlambat datang. Sehingga api sudah sangat besar, namun
salah satu petugas pemadam kebakaran itu ada yang berani masuk ke dalam kobaran
si jago merah. Dan berhasil menyelamatkan seorang wanita yang ada dalam rumah
itu. Namun kondisi wanita itu sudah hampir tak tertolong. Sedangkan laki-laki
(suami wanita itu) dan anaknya tidak sempat di tolong karna api sudah sangat
membesar dan membakar habis rumah itu tidak terkecuali suami dan anak wanita
itu. Sungguh malang sekali nasib keluarga ini.Tidak sempat begitu lama
merasakan kebahagiaan sudah mendapatkan ujian yang sangat berat.
Setelah wanita tadi di selamatkan langsung di bawa kerumah sakit
dengan kondisi yang mengenaskan. Namun syukur dia berhasil diselamatkan. Tapi
tanah peninggalan suaminya tadi (rumah yang terbakar) adalah salah satunya
tanah yang dia punya, namun itu telah habis terjual untuk membiayai dia ketika
dirumah sakit. Setelah dia keluar dari rumah sakit diapuntak punya apa-apa
lagi. Keluarganya pun tak tau entah kemana.
Bruuukkkk..... tiba-tiba dahan pohon yang telah rapuh itu jatuh
kepermukaan bumi. Dan membuat nenek itu
terbangun dari khayalan masa lalunya. Dan dia bangkit dari tempat
duduknya, Seraya air matanyapun mengalir isak tangis nenek tua itu tak tertahan
dia berteriak sekuat tenaganya memanggil nama suami dan anaknya. Dengan air
mata yang berjatuhan membasahi pipinya, dia terus memanggil memanggil dan
memanggil nama suami dan anaknya.
Hingga
tubuhnya lemas dan diapun terbaring lemah di permukaan bumi.
Ternyata nenek tua itu bukanlah nenek. Itu hanya panggilan orang
kepadanya. Padahal usianya masih amat muda, namun paska kejadian sepuluh tahun
yang lalu itu membuat wajahnya kriput karna di sambar si jago merah. Sekarang
hanya gubuk tua itu tempatnya menghabiskan sisa-sisa umurnya. Sendirian ,
sebatang kara tanpa ada sanak saudara yang menemaninya dia hanya berteman
dengan hewan-hewan hutan dan kayu-kayu bakar yang selalu dikumpulkannya.
Gubuk tua itu tidak bisa sepenuhnya melindungi dia, Gubuk tua itu
hanya melindungi dia dari alam bebas. Namun sa’at hujan turun seluruh isi gubuk
itupun basah karna atapnya sudah tidak luarsa lagi. Penuh dengan lobang-lobang.
Lobang itu sangat jelas terlihat ketika matahari menyinari gubuk itu ada
cahaya-cahaya kecil yang menusuk masuk dari celah-celah atap yang bolong.
Hari-demi haripun berlalu, hingga suatu sa’at dia pergi mencari
kayu bakar di hutan tiba-tiba sebuah pohon besar tumbang dan mengenai dia. Dia
tertindih oleh pohon besar itu, tidak bisa dibayangkan betapa sakitnya dia
sa’at itu. Hingga dia menghembuskan napas terakhirnya. Tak ada satu orangpun
yang mengetahui kematiannya. Hingga mayatnya membusuk dan menghilang dimakan
zaman yang terus berjalan menelusuri sungai-sungai kehidupan alam bebas.
*Tamat*
@Ahlal_kamal
26-06-2012





0 komentar:
Posting Komentar
Trimakasih atas komentarnya akhi ukhty salam persaudaraan