Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Selasa, 31 Juli 2012

*Gubuk Tua*



            Sesesorang dengan raut wajah hitam dan keriput, dan tubuhnya kurus, tampak tulang-tulang yang terlihat di sekujur tubuhnya. Dengan pakaian yang berlobang-lobang nampak pakaian itu adalah satu-satunya pakaian yang dia miliki. Tubuhnyapun bau karna dia jarang sekali mandi. Orang-orang biasa memanggilnya dengan nenek tua.
            Hari itu dia bangun pagi-pagi sekali, dan mulai mengisi aktivitas seperti biasanya. Yakni mencari kayu bakar di hutan. Kayu bakar itu kemudian dikumpulkannya lalu di jualnya kepada orang-orang yang membutuhkan kayu itu. Biasanya dia menjual kayu bakar itu ke desa seberang. Dia membutuhkan waktu satu setengah jam untuk menuju desa itu. Demi memenuhi kebutuhan sehari-harinya wanita sebatang kara itupun rela melakukan pekerjaan itu. Tiada kata lelah dalam benaknya. Karna itu juga sudah menjadi kerjaanya sejak sepuluh tahun yang lalu.
            Kini Matahari tepat berada di atas kepalanya, dan dia memangdang langit dengan bola matanya. Olehnya terlihat matahari di sela-sela rimbun dedaunan pohon. Nenek tua itupun merasa lelah sekali setelah mengumpulkan kayu-kayu kering yang sudah lumayan banyak. Lalu dia duduk di bawah pohon besar. Orang daerah situ biasa menyapa pohon itu dengan  sebutan *Pohon angker*. Konon katanya pohon itu sangat angker. Seringkali orang-orang yang melewati pohon itu mendengar suara aneh yang gemuruh , seolah-olah ada kehidupan di sekeliling pohon itu. Karna banyak suara yang keluar dari bilik pohon itu. Setiap orang yang mlewati pohon itu pasti bulu-bulu kuduk nya bangun terasa sangat merinding, dan kalau tiba-tiba sa’at merinding itu jatuh setangkai pohon kayu yang rapuk dengan suara yang mengejutkan orang yang merinding itupun terkejut dan langsung berlari tanpa tau arah kemana,, yang penting berlari karena takut dan terkejut tiada tara.
Namun berbeda dengan nenek tua tadi, dia dengan tenangnya beristirahat melepaskan rasa lelah dibawah pohon itu, Karna walaupun terkenal angkernya, pohon itu sangat rindang dengan dedaunan yang membuat sejuk suasana di sekeliling pohon itu. Nenek tua itu sangat lelah sekali dan tidak terasa dia tertidur di bawah kerindangan pohon itu. Hingga tiba-tiba hujan turun dan membangunkan dia dari tidurnya. Sa’at tersadar air mulai membasahi wajahnya yang keriput itu dengan bergegas dia bangun lalu menutup batang kayu-kayu kecil yang telah dikumpulkannya tadi. Agar tidak basah terkena air hujan yang jatuh di sela-sela dedaunan kecil pohon angker itu.
Setelah berberapa lama kemudian hujanpun mulai reda dan terlihat matahari kembali menampakkan keperkasaannya. Nenek tua itupun bangun dari tempat bernaungnya seraya mengambil kayu-kayu yang dikumpulkannya tadi dan berniat akan melangkahkan kakinya pulang kerumah.
Dengan penuh semangat dia berjalan menelusuri hutan dan terlihat air terjun yang jernih di sebuah tempat yang biasa dilaluinya untuk pulang kerumah. Seketika melihat air jernih itu dia pun merasa haus. Dan seketika itu juga dia turun untuk minum air terjun yang jernih tadi. Hal seperti Itu memang sudah biasa dia lakukan setiap kali pulang dari mencari kayu bakar.
Kicau burung di sepanjang jalannya menuju rumahnya membuat dia tidak merasa kesepian dan semakin membuatnya bersemangat untuk melangkahkan kakinya. Namun sesampai di depan rumahnya semangatnyapun hilang. Dan sekarang dia duduk di sebuah batang pohon yang tumbang di depan rumahnya. Terlihat jelas di depan matanya sebuah gubuk tua yang condong kekiri dan hampir ambruk.

Suasana sunyi senyap menyelimuti cuaca pada sa’at itu percikan bekas air hujan yang tersisa di atas dedaunan pohon jatuh di Sela-sela dahan ranting membuat suasana sa’at itu semakin  senyap. Ditambah dengan sejuknya pohon-pohon yang rindang membawa sii nenek itu kedalam alam hayalannya. Tidak terasa dia mulai menjatuhkan air mata dan air matanya itu mengalir dari sisi-sisi hingunya lalu air mata itu jatuh ke mulutnya tangan kanannya pun langsung menyapu air matanya yang jatuh itu. Ada apa gerangan yang terjadi? Ternyata nenek itu teringat akan suami dan anaknya sepuluh tahun silam.
Ketika itu suasana haru bahagia menyelimuti sebuah keluarga sederhana yang berda di pinggiran kota. Karna anak pertama telah lahir di keluarga itu, terlihat seorang bayi yang sedang di gendong ayahnya, bayi laki-laki yang sangat tampan. Umurnya baru sekitar dua Minggu. Setiap kali ibunya memandang bayi itu tidak terasa air mengalir di pipi sang bunda. Karna merasa sangat bahagia memiliki anak laki-laki yang sehat dan tampan serta tidak rewel. Namun kebahagiaan keluarga ini tidak berlangsung lama.
Sa’at itu anaknya sudah berusia dua tahun. Suasana begitu sepi terasa, menunjukkan malam itu semakin larut. Keluarga itupun sudah tertidur pulas sekali. Tanpa sadar sang ibu lupa memtikan kompor sehabis memasak air untuk membuatkan susu anaknya sekitar dua jam yang lalu. Tidak tau pasti bagaimana kejadian itu berlangsung. Tiba-tiba kompor yang menyala itu meledak dan membakar isi dapur. Namun kelurga itu masih tertidur pulas sedangkan tetangga di sekeliling rumahnya berhamburan keluar rumah menyelamatkan diri.
Sang jago merahpun dengan cepat merayap-rayap memakan rumah itu, Pemadam kebakaran terlambat datang. Sehingga api sudah sangat besar, namun salah satu petugas pemadam kebakaran itu ada yang berani masuk ke dalam kobaran si jago merah. Dan berhasil menyelamatkan seorang wanita yang ada dalam rumah itu. Namun kondisi wanita itu sudah hampir tak tertolong. Sedangkan laki-laki (suami wanita itu) dan anaknya tidak sempat di tolong karna api sudah sangat membesar dan membakar habis rumah itu tidak terkecuali suami dan anak wanita itu. Sungguh malang sekali nasib keluarga ini.Tidak sempat begitu lama merasakan kebahagiaan sudah mendapatkan ujian yang sangat berat.
Setelah wanita tadi di selamatkan langsung di bawa kerumah sakit dengan kondisi yang mengenaskan. Namun syukur dia berhasil diselamatkan. Tapi tanah peninggalan suaminya tadi (rumah yang terbakar) adalah salah satunya tanah yang dia punya, namun itu telah habis terjual untuk membiayai dia ketika dirumah sakit. Setelah dia keluar dari rumah sakit diapuntak punya apa-apa lagi. Keluarganya pun tak tau entah kemana.
Bruuukkkk..... tiba-tiba dahan pohon yang telah rapuh itu jatuh kepermukaan bumi. Dan membuat nenek itu  terbangun dari khayalan masa lalunya. Dan dia bangkit dari tempat duduknya, Seraya air matanyapun mengalir isak tangis nenek tua itu tak tertahan dia berteriak sekuat tenaganya memanggil nama suami dan anaknya. Dengan air mata yang berjatuhan membasahi pipinya, dia terus memanggil memanggil dan memanggil nama suami dan anaknya.
Hingga tubuhnya lemas dan diapun terbaring lemah di permukaan bumi.
Ternyata nenek tua itu bukanlah nenek. Itu hanya panggilan orang kepadanya. Padahal usianya masih amat muda, namun paska kejadian sepuluh tahun yang lalu itu membuat wajahnya kriput karna di sambar si jago merah. Sekarang hanya gubuk tua itu tempatnya menghabiskan sisa-sisa umurnya. Sendirian , sebatang kara tanpa ada sanak saudara yang menemaninya dia hanya berteman dengan hewan-hewan hutan dan kayu-kayu bakar yang selalu dikumpulkannya.


Gubuk tua itu tidak bisa sepenuhnya melindungi dia, Gubuk tua itu hanya melindungi dia dari alam bebas. Namun sa’at hujan turun seluruh isi gubuk itupun basah karna atapnya sudah tidak luarsa lagi. Penuh dengan lobang-lobang. Lobang itu sangat jelas terlihat ketika matahari menyinari gubuk itu ada cahaya-cahaya kecil yang menusuk masuk dari celah-celah atap yang bolong.
Hari-demi haripun berlalu, hingga suatu sa’at dia pergi mencari kayu bakar di hutan tiba-tiba sebuah pohon besar tumbang dan mengenai dia. Dia tertindih oleh pohon besar itu, tidak bisa dibayangkan betapa sakitnya dia sa’at itu. Hingga dia menghembuskan napas terakhirnya. Tak ada satu orangpun yang mengetahui kematiannya. Hingga mayatnya membusuk dan menghilang dimakan zaman yang terus berjalan menelusuri sungai-sungai kehidupan alam bebas.
*Tamat*
@Ahlal_kamal
26-06-2012



0 komentar:

Posting Komentar

Trimakasih atas komentarnya akhi ukhty salam persaudaraan